Band Wagon: Ngikut Dulu, Bener Salahnya Belakangan

Ilustrasi tiga orang sedang berlari mengikuti arahan dari tangan besar yang melambangkan petunjuk mayoritas. (Ifsani Ehsan Fachrezi/SM)

Waktu silih berganti, kehidupan masyarakat akan terus menjalani perubahan fenomena. Perubahan fenomena kehidupan sosial pun bisa terbentuk secara alami atau hasil rekayasa manusia. Demi mencapai tujuan, manusia pun punya kuasa untuk menciptakan fenomenanya tersendiri seperti kampanye politik hingga tren budaya populer.

Secara sadar ataupun tidak, kita semua mungkin pernah mengikuti suatu tren karena banyak orang yang melakukannya. Tapi, tahukah kamu itu adalah efek dari Bandwagon​? Efek Bandwagon​ merupakan suatu perilaku “ikut-ikutan” yang dilakukan karena atas dasar melihat banyak orang yang mengikutinya juga.

Jajak Efek Band Wagon

Dikutip dari Komarudin Hidayat di laman sindonews.com​ ​, efek Bandwagon​ muncul di Amerika Serikat pada abad 19. Fenomena tersebut mengacu pada sebuah parade musik dan sirkus. Kereta musik (bandwagon​ ​) ini sangat menarik perhatian orang banyak karena alunan musiknya. Dengan suksesnya parade musik ini, politisi yang ingin dikenal publik berebut untuk menaikinya dengan harapan wajah dan nama mereka semakin dikenal.

Dosen Psikologi Sosial Universitas Muhammadiyah Prof. Dr Hamka (Uhamka), Vella Fitrisia menuturkan bahwa Bandwagon​ merupakan istilah dalam berbagai macam kejadian, dimana seseorang mengikuti pendapat yang dianggapnya menjadi pendapat mayoritas dan dominan. Istilah ini sebenarnya digunakan dalam situasi politik untuk membentuk opini publik. Vella​ menjelaskan alasan orang melakukan kegiatan ikut-ikutan ini adalah karena sifat manusia itu sendiri dan rasa tertekan oleh pendapat mayoritas.

“Ingin disukai dan diterima oleh lingkungannya sehingga mengabaikan pendapat atau keinginan diri sendiri.” Ujarnya ketika dihubungi secara daring.

“Jika kita merasa tertekan oleh pendapat mayoritas dan dengan terpaksa harus mengikutinya, maka hal ini akan membuat kita merasa tidak nyaman dan merasa membohongi diri sendiri. Untuk menghindari hal ini, sebaiknya kita berpikir secara logis dan rasional” ucap Vella.

Hal tersebut terjadi dalam situasi dimana orang percaya bahwa kepentingan mereka dilayani dengan gerakan yang modis. Disebut demikian karena Bandwagon​ ini seperti kendaraan yang membawa pendapat seseorang pada dukungan pemikiran yang populer.

Untuk menyadari apakah kita terkena pengaruh efek bandwagon ini bisa dirasakan oleh diri sendiri, seperti yang dikatakan vella, “misalnya tetap mengenakan suatu pakaian yang sedang hits​ agar dikatakan gaul oleh teman, meskipun kita tidak menyukai model dan style​ ​ nya.”

Mengenal Band Wagon dari Peristiwa Sehari-hari

Kemunculan banyak tren yang bersemilir di Indonesia cenderung membuat seseorang semakin mudah terpengaruhi. Pasalnya, dalam ilmu psikologi massa, masyarakat beranggapan bahwa sesuatu yang dilakukan oleh banyak orang dianggap sebagai hal yang benar. Dengan kata lain, massa lebih menyukai sikap emosional daripada logika.

Jika fenomena bandwagon​ hanya berbunyi sebagai fenomena yang mudah terbawa arus. Sebetulnya, suatu tren yang terbentuk dapat dipilah berdasarkan dampak yang ditimbulkan. Efek bandwagon​ yang tercipta dapat timbul dari pelbagai bidang, mulai dari fashion, musik, kuliner hingga politik.

Dilansir dari situs thedecisionlab.com​, efek ikut-ikutan ini terjadi atas beberapa sebab, seperti heuristic atau otak mengambil jalan pintas dalam memilih keputusan. Kemudian, ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, dimana kita melakukan kegiatan yang banyak dilakukan di suatu lingkungan.

Dalam situasi politik, efek bandwagon​ kerap kali terjadi ketika mendekati pemilu. Masing-masing tokoh politik berkampanye dengan konser musik ataupun mendatangkan tokoh publik ternama, dengan harapan memikat publik yang banyak.

Masalah memilih suatu calon pemimpin pun tak luput dari pengaruh efek ini. Tekanan lingkungan tetangga, rumah, hingga keluarga akan mempengaruhi pilihan. Meskipun pilihan pribadi kokoh pada calon pemimpin A, akan berubah ketika pilihan keluarga pada calon pemimpin B.

Di kehidupan sosial, kampanye gerakan hidup sehat yang diimplementasikan dalam kegiatan bersepeda nampaknya sukses mendapat antusias yang ramai. Namun, ramainya tren bersepeda ini tidak sejalan dengan edukasi yang tepat. Pesepeda ‘dadakan’ yang bersepeda karena ikut-ikutan menjadi masalah jalanan baru.

Seperti pada unggahan instagram @newdramaojol​ yang menampilkan belasan pesepeda menerobos lampu merah, kurangnya kesadaran akan keselamatan berlalu lintas tentunya dapat membahayakan pengendara serta pengguna jalan lainnya.

Disamping permasalahan pesepeda yang terjadi, muncul lagi polemik baru di masa pandemi ini. Seperti yang kita tahu, jika aplikasi TikTok​ yang berbasis dalam unggahan video singkat mengalami peningkatan secara signifikan di masa pandemi.

Berdasarkan data dari laman katadata.com tiktok diketahui memiliki 625 juta pengguna aktif, dan selama pandemi yang terjadi sepanjang tahun 2020 pengguna tiktok naik hingga 20 persen. Banyak orang memanfaatkan aplikasi untuk sekedar menyalurkan hobi, atau bahkan sharing ilmu, hingga promosi usaha. Dari sekian banyak hal yang diunggah di tiktok, ada salah satu kegiatan usaha yang kini banyak digandrungi oleh banyak masyarakat, yaitu thrifting.

Thrifting​ yakni berburu barang bekas pakai atau preloved, kebiasaan thrifting dan menjual baju preloved​ sebenarnya sudah ada sejak dulu. Namun kepopulerannya melejit bersamaan dengan kemudahan berpromosi di tiktok.

Banyak pelaku usaha baru yang mencoba peruntungannya untuk masuk ke dalam dunia thrift shop ini. Namun disayangkan, tidak semua pelaku usaha baru mengetahui ilmu dasar dalam bergelut di dunia thrift shop​. Salah satu akun tiktok yang muncul di for your page mengaku barang thrift​ yang ia beli dari distributor sangat mengecewakan dan tidak layak pakai.

Fenomena Band Wagon pada Mahasiswa

Transisi dari siswa menjadi mahasiswa yang ‘katanya’ sangat berbeda, mendorong seorang yang menganyam pendidikan di perguruan tinggi untuk merubah segalanya. Mulai dari pola pikir, sikap, hingga penampilan. Pilihan masuk perguruan tinggi tidak hanya mengejar gelar, namun ada pertimbangan lain yaitu mengamalkan ilmu yang diperoleh untuk pengabdian kepada masyarakat.

Seperti yang tertuang dalam tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat.

Efek bandwagon ini sering terjadi di kalangan mahasiswa dalam pemilihan fakultas maupun jurusan. Mahasiswa yang salah fakultas maupun jurusan biasanya terjadi hanya karena mengikuti temannya tanpa mencari tahu bidang yang diambil.

Hal tersebut dialami oleh Fiska Amalia, Mahasiswi Fakultas Dakwah Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Unisba. Ia mengaku bidang studi yang sedang ditempuhnya tidak sesuai dengan keinginannya karena mengira sama seperti Ilmu Komunikasi pada umumnya.

“Awalnya nggak keterima PTN terus ada temen yang masuk swasta, sekarang aku nyesel, tapi ya dijalani aja deh​ meskipun banyak pelajaran agama yang nggak pernah dipelajari sebelumnya.” ujar Fiska saat dihubungi secara daring.

Serupa dengan Fiska, Mahasiswa Fakultas Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2019, Alfi Syahrul Arkam tahu dan merasa dirinya terkena efek Bandwagon ​ini. Sejalan dengan fakultasnya, ia ingin mengikuti tren pakaian layaknya seorang pengacara. “Ingin selalu menggunakan fashion​ yang menarik, meniru penampilan lawyers ​ ​terkenal.” ungkapnya.

Setelah masuk dunia perkuliahan, akan terjadi hal ikut-ikutan lainnya, semisal cara berpakaian, model rambut gondrong yang dirasa sudah menjadi ciri khas dari mahasiswa. Kita juga akan disuguhkan oleh organisasi dan kegiatan kepanitiaan suatu acara.

Dari penjabaran di atas, trend rambut gondrong nampaknya menarik untuk disoroti. Seorang yang sedang menganyam pendidikan di perguruan tinggi sudah tidak lagi mendengar aturan potongan rambut. Seperti yang dijelaskan dari artikel Suaramahasiswa.info berjudul Makna di Balik Rambut Gondrong Bagi Mahasiswa, setidaknya ada empat alasan mengapa mahasiswa memilih berambut gondrong.

Pertama, meningkatkan rasa percaya diri. Mungkin kepercayaan diri tersebut bersifat subjektif bagi seorang laki-laki yang memiliki gaya rambut gondrong.

Kedua, terinspirasi dari idolanya. Kemungkinan mahasiswa memiliki rambut gondrong selanjutnya yaitu ingin meniru idolanya. Jika mahasiswa tersebut mengidolakan vokalis nirvana, Curt Cobain, besar kemungkinan penampilannya akan ditiru termasuk rambut gondrong khasnya.

Ketiga, adanya sensasi ketika berambut gondrong. Bagi seorang yang belum pernah merasakan sensasi ber-rambut gondrong, mungkin tidak akan merasakan bagaimana rumitnya perawatan rambut. Hal tersebut merupakan sensasi dan tantangan tersendiri bagi seorang yang memiliki rambut gondrong.

Terakhir, sebagai pembuktian bahwa sesuatu hal tidak bisa dinilai hanya dari luar. Penampilan rambut gondrong yang dicap sebagai seorang yang urakan, nampaknya tidak bisa disamaratakan. Seorang mahasiswa yang berambut gondrong dengan jiwa intelektual yang tinggi dapat membuktikan jika penampilan rambut gondrong tidak selamanya urakan dan negatif.

Positif Negatif Efek Band Wagon

Fenomena Bandwagon tentu ada efek bagi orang yang melakukannya. Vella menjelaskan, “Sifat ‘ikut-ikutan’ ini bisa dilihat dari sisi positif dan negatifnya, jika kelompok yang kita ikuti mencerminkan perilaku yang buruk atau pendapat yang merusak, tentu saja kita akan ikut rusak, begitupun sebaliknya.” ujarnya.

Dilansir dari verywellmind.com,​ atas dasar “ikut-ikutan” dan mengesampingkan fakta yang ada, bisa menjadi hal yang sangat serius dan merusak. Seperti contoh, maraknya gerakan anti-vaksin yang berpendapat bahwa vaksin bisa memperburuk keadaan.

Dilansir dari laman thedecisionlab.com​ efek ini dibagi menjadi dua, yaitu terhadap individu dan sistemik. Yang mana efek dari “ikut-ikutan” ini mengikis pemikiran kritis individu dalam mengambil keputusan yang baik, dan juga dari kurangnya pemikiran kritis, bisa membuat kita terbawa arus gerakan sosial dan politik yang berdampak secara luas.

Dengan begitu, tekanan pendapat mayoritas akan berpengaruh pada hasil akhir keputusan seseorang. Jika seseorang tersebut memiliki jiwa kritis, bukan tidak mungkin untuk berpegang teguh pada idealismenya. Dari efek band wagon ini dapat dilihat pemikiran kritis seseorang terhadap suatu peristiwa. Dampak baik maupun buruk sepenuhnya ada ditangan individu itu sendiri.

Penulis: Zaky Ahmad & Ahmad Fadlan

Editor: Aryana Catur Rangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *