Sengkarut Kuliah Dalam Jaringan di Unisba

Ilustrasi seseorang sedang menyelesaikan kepingan puzzle mengenai kuliah online. (Fahriza Wiratama/SM)

“Kuliah daring itu banyak gangguannya, e-kuliah error, perkuliahan enggak sesuai jadwal, ditambah sulitnya memahami materi yang disampaikan dosen.”

Begitu agaknya keluhan yang dialami salah satu Mahasiswa Fakultas Dakwah ketika menjalani perkuliahan dalam jaringan (daring).

Selain Mahasiswa Fakultas Dakwah, banyak pula mahasiswa Unisba yang mengeluhkan hal serupa. Lewat riset yang dilakukan Suara Mahasiswa kepada 387 mahasiswa per tanggal 6 januari 2021, sebesar 45,4% mahasiswa mengeluhkan sistem e-kuliah, 29,5% kesulitan menjangkau  sinyal, 16,4% keterbatasan kuota, dan 8,7% mahasiswa mengalami keluhan lain.

Sebelum membahas lebih dalam mengenai keluhan yang dialami civitas academica, mari kita kilas balik pada kondisi awal perkuliahan daring ini dimulai. Perkuliahan daring muncul  dikarenakan merebaknya virus covid-19 ke Indonesia pada bulan Maret tahun 2020. Akibatnya, berbagai aktivitas akademik dan non akademik di seluruh Perguruan Tinggi dibatasi sehingga pelaksanaannya dilakukan secara daring.

Terkait hal tersebut, pada (17/03/2020) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan surat edaran No: 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah untuk mencegah penyebaran Covid-19. Surat edaran  menyebutkan untuk memberlakukan siswa, mahasiswa, dosen, dan guru melaksanakan pembelajaran secara daring.

Sebelum Kemendikbud menerbitkan surat edarannya, Unisba sendiri telah menerbitkan Surat Edaran Rektor pada (16/3/2020) No: 181/G.13/Rek-k/II/2020 tentang upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Unisba. Dalam surat tersebut terdapat larangan kegiatan akademik dan non-akademik di kampus. Sementara kegiatan akademik seperti perkuliahan dan ujian dilaksanakan secara daring melalui website kampus, whatsapp grup, aplikasi belajar serta aplikasi tatap muka.

Rektor Unisba, Edi Setiadi menjelaskan terkait perubahan perkuliahan tatap muka menjadi perkuliahan daring  membuat sarana prasarana kampus harus mengalami perombakan.
“Perombakan yang diberlakukan seperti, penguatan kelembagaan UPT e-learning, peningkatan profesionalisme SDM dan perubahan kebijakan terhadap mahasiswa di PBM atau dikjar,” Ujarnya ketika diwawancarai pada (12/01/2021).

Ragam Sistem Kuliah Daring Unisba

Dalam melaksanakan kegiatan perkuliahannya, Unisba menyediakan fasilitas sistem kuliah berbasis digital yang sudah siap sejak tahun 2019 lalu. Wakil Rektor I Unisba, Harits Nu’man mengharapkan agar mahasiswa siap dengan adanya sistem kuliah berbasis digital ini, dimana semua mata kuliah diberi proporsi waktu 40% daring dan 60% tatap muka.

Kurikulum yang menjadi referensi Unisba dalam melakukan kuliah daring disesuaikan sebagaimana Permendikbud dan Surat Edaran Dirjen Dikti. Minimal ada tiga aspek standar baku kurikulum di perguruan tinggi, yaitu standar proses pembelajaran, standar penilaian, dan standar dosen & tenaga kependidikan.

“Syarat wajib sudah dipenuhi, ditambah dengan penciri Unisba,” ungkapnya pada (30/1/2021).
Hal ini pun berlaku di ranah Fakultas, salah satunya Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Dekan FEB, Nunung Nurhayati memberikan pelatihan kepada para dosennya terkait dengan penggunaan e-learning dan mengharapkan para dosennya bisa menguasai penggunaan e-learning tersebut. Tidak hanya itu, para dosen juga disarankan untuk menggunakan platform lain sebagai tambahan.

“Penggunaan e-learning ini tidak semua dosen menguasainya, maka kami memberikan pelatihan-pelatihan kepada para dosennya sehingga bisa mandiri. Selain e-learning, dosen juga menggunakan Zoom Meeting, youtube, dan Whatsapp,” Tuturnya saat diwawancarai pada (26/12/2020).

Selain FEB, Fakultas MIPA, mereka menyediakan fasilitas teleconference serta membentuk grup kecil di aplikasi untuk berinteraksi antara dosen dan mahasiswa. Setiap dosen yang mengajar pun harus mematuhi jadwal.

“Setiap dosen harus mematuhi jadwal yang sudah ada, pengumpulan tugas harus diberikan waktu yang relatif lebih lama dan tidak boleh mengumpulkan saat jam kuliah. Misalnya kuliah dari jam 7-9, pengumpulan tugas tidak boleh berakhir pada pukul 9 di hari itu,” Kata Dekan Fakultas MIPA, Teti Sofia kepada Suara Mahasiswa pada (06/01/2021).

Fakultas Hukum pun telah mempersiapkan siasat agar mahasiswa tidak terlambat mengumpulkan tugas. Wakil Dekan 1 Fakultas Hukum menjelaskan bahwa ia mengarahkan para dosen menggunakan sistem e-kuliah yang tidak sesuai jadwal (asinkronus) untuk menghindari masalah pengumpulan tugas.

Permasalahan tak hanya pada pembelajaran secara formal. Dalam melaksanakan praktikum menjadi masalah besar pula dalam pelaksanaannya. Lantaran, praktikum biasanya dilakukan secara tatap muka.

Untuk kegiatan praktikum di Fakultas Farmasi, semua komponen praktikum dilakukan di portal e-kuliah Unisba. Mahasiswa tidak melakukan prosedur praktikum secara langsung, akan tetapi mengamati pengerjaan melalui tayangan video yang sudah disiapkan oleh pihak laboratorium.
Kepala Seksi (Kasie) Lab B Program Studi Farmasi, Kiki Mulkiya beranggapan pemilihan sistem praktikum secara daring merupakan pertimbangan kebijakan pemerintah dengan institusi terkait. Pada pelaksanaannya, praktikum dilakukan sebelum dan sesudah ujian tengah semester.

“Apabila praktikum dilaksanakan dengan kapasitas 50%, maka akibatnya waktu pelaksanaan akan bertambah, sementara di waktu berikutnya sudah ditunggu untuk pelaksanaan praktikum yang lain,” Ucapnya (27/01/2021).

Mengikuti Surat edaran Kemendikbud No 6 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran  Pada Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021. Perguruan Tinggi harus membatasi penggunaan ruangan maksimal 50% atau maksimal 25 orang dalam satu ruangan. Dengan demikian kegiatan praktikum bisa dilaksanakan sesuai dengan surat edaran tersebut.

Begitupun di Teknik Industri, empat laboratorium semuanya melakukan praktikum daring dengan zoom meeting. Adapun untuk hasil dari praktikum, data yang diperoleh menjadi instan karena telah diolah oleh sistem sehingga sifatnya data sekunder karena tidak dilakukan pengukuran secara langsung.

Kepala Seksi (Kasie) Lab Sistem Produksi Program Studi Teknik Industri, Nita Puspita menjelaskan walaupun beberapa praktikum di laboratoriumnya sudah bisa diubah ke daring namun masih ada praktikum yang tertunda akibat tidak memungkinkan dilakukan daring.

“Yang saat ini menjadi pembahasan itu untuk proses manufaktur, dimana prosesnya menggunakan perangkat atau mesin yang mutlak dan itu tidak mungkin sepenuhnya dilaksanakan daring,” Katanya (30/1/2021).

Berbeda dengan Farmasi dan Teknik Industri, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) memberikan kebebasan kepada mahasiswa yang mengikuti praktikum mata kuliah Produksi Media Kreatif Film untuk melaksanakan praktikum secara tatap muka, asalkan sesuai dengan standar protokol kesehatan.

Kasie Lab Film, Askurifai Baksin menjelaskan mahasiswa harus di cek suhu tubuh terlebih dahulu di gerbang ketika akan masuk, setelah itu mahasiswa harus menggunakan hand sanitizer dan masker medis yang sudah disiapkan. Adapun untuk peserta praktikum berjumlah tiga hingga enam orang untuk mengikuti praktikum serta menggunakan aplikasi zoom untuk mahasiswa yang melakukan praktikum secara luar jaringan (luring).

“Untuk kelancaran praktikum dipantau dosen pengampu, ya memang ada khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan karena suasananya pandemi namun selama lab film bisa menjalankan protokol kesehatan maka masih dibolehkan dengan hati-hati,” Tuturnya (16/1/2021).

Terkait peminjaman alat praktikum Lab Film, Askurafi tetap melakukan prosedur yang telah ada, antara lain harus seizin Wakil Dekan II dan disesuaikan dengan kegiatan fakultas. Hal ini dilakukan sebab alat praktikum rawan rusak sehingga perlu dipelihara sebaik mungkin untuk memprioritaskan kegiatan praktikum.

Menanggapi hal tersebut mahasiswa Fikom, Yusfriza Setia berharap peminjaman alat dapat dilakukan untuk membantu tugas praktikumnya karena sebelumnya tidak bisa akibat ada sterilisasi di kampus.

“Awalnya boleh untuk pembuatan film tapi karena aktivitas kampus ditiadakan, akhirnya praktik daring dan alat dari lab yang tadinya mau dipinjemin pake alat seadanya milik sendiri,” Ungkapnya (16/1/2021).

Begitupun pada mahasiswa program studi farmasi, Mochamad Farhan berharap tugas dari praktikum daring bisa disesuaikan dengan tugas yang lain supaya tidak memberatkan dan resolusi video bisa lebih jernih agar dirinya mudah mengerjakan tugas praktikum daring yang diberikan.

“Saya tidak setuju tugas praktikum (daring) lebih banyak dibanding ketika offline belum lagi ada tugas lainnya (non praktikum). Adapun resolusi video harus lebih diperhatikan karena kalau resolusi rendah videonya jadi tidak jelas untuk melihat berat, mili dan perhitungan lainnya,” Tutupnya (30/1/2021).

Data Kepuasan Mahasiswa dalam Menjalankan Kuliah Daring di Unisba

Perkuliahan daring sudah dilaksanakan dari Maret 2020 hingga kini memasuki tahun 2021. Dalam rentang waktu itu mahasiswa ditempa dalam berbagai perubahan, sehingga hal itu yang menjadi dorongan, departemen penelitian dan pengembangan Pers Suara Mahasiswa menyebarkan kuesioner secara acak dengan jumlah responden 387 dari Sepuluh fakultas di Unisba. Pengisian kuesioner dilakukan pada tanggal 15 Desember 2020 hingga 6 Januari 2021.

Ekuliah menjadi media yang sering digunakan selama kuliah daring oleh 82,4% mahasiswa Unisba, sementara 13,2% menggunakan zoom. Dilihat dari keefektifan penyampaian materi perkuliahan daring 55,6% memilih video pembahasan sedangkan 22,5% PPT dan modul 14%. Dilihat dari keefektifan untuk melakukan forum diskusi 45% memilih ekuliah, sementara 38,8% menggunakan zoom. Dilihat dari keefektifan mengumpulkan tugas 91,7% memilih ekuliah, sedangkan 6,7% menggunakan Whatsapp grup.

Penilaian mahasiswa terhadap sistem perkuliahan daring 65,1% baik, sementara 20,7% masih merasa kurang baik. Hal ini dipengaruhi karena kendala dalam mengakses ekuliah 61,5% terkadang terkendala, sementara 26,6% sering terkendala. Kendala dalam kuliah daring diantaranya 45,4% oleh sistem ekuliah, sementara 29,5%  sinyal lemah dan 16,4% keterbatasan kuota.

Untuk memperbaiki kuliah daring 59,4% mahasiswa setuju perkuliahan daring lebih perlu dilakukan melalui zoom daripada ekuliah, sementara 40,6% tidak merasa zoom lebih diperlukan daripada ekuliah. Lain halnya mengenai materi perkuliahan 86% disiapkan dengan baik, sedangkan 14% tidak disiapkan baik. Dalam memahami materi yang diberikan dosen 51,2% dapat dipahami, sementara 43,9% kurang dapat dipahami.

Proses perkuliahan daring tidak lepas dari teknologi dimana mahasiswa dan dosen harus memiliki kemampuan dalam menggunakan media perkuliahan, tidak terkecuali dosen sebagai pengampu mata kuliah nyatanya masih kesulitan menguasai teknologi. Setidaknya mahasiswa menilai dalam proses kuliah daring 55,8% masih ada dosen yang gagap teknologi, sementara 44,2 tidak ada dosen yang gagap teknologi.

Kuliah daring memiliki jangka waktu yang lebih fleksibel dibandingkan kuliah tatap muka, dalam prosesnya 76% kuliah daring dilaksanakan sesuai jadwal, sedangkan 24% tidak dilaksanakan sesuai jadwal. Karena waktu yang fleksibel menjadikan kelas malam di saat perkuliahan daring dapat dilakukan, kelas malam saat perkuliahan daring 69,5% mahasiswa tidak pernah mengikuti, sedangkan 30,5% mahasiswa pernah mengikuti. Hal tersebut menimbulkan pro kontra dimana 93% yang menyatakan kontra dan 7% pro.

Sebagai kampus Islam, Unisba memiliki program pesantren mahasiswa baru dan pesantren calon sarjana. Dimana dalam pelaksanaannya dilakukan daring 50% mahasiswa setuju dan 50% lagi tidak setuju bila dilakukan daring. Berbagai kendala yang ditemukan antara lain 30,4% karena sinyal, 27% situasi dan kondisi lingkungan, 25,6% teknis pelaksanaan, dan 4,4% alat komunikasi. Secara umum sistem pelaksanaan kuliah daring sebanyak 61,2% mahasiswa merasa sudah puas, sementara 26,4% tidak puas, 8,5% sangat puas dan 3,9% sangat tidak puas.

Pendanaan Perkuliahan Daring

Pembayaran Iuran Kuliah Tetap (IKT) merupakan kewajiban mahasiswa yang tidak bisa dielakkan walau menghadapi situasi apapun. Kampus yang dianggap sebagai fasilitator seakan tidak mau tau akan kondisi mahasiswa, yang terpenting biaya harus tetap dipenuhi oleh mahasiswa. Sebagai solusi, Unisba memberikan subsidi kuota, uang tunai dan potongan biaya kuliah bagi mahasiswa walaupun seringkali masih dirasa memberatkan.

Wakil Rektor II, Atih Rohaeti Dariah menjelaskan terkait mahasiswa yang telat membayar IKT  maka kampus memberikan kebijakan perpanjangan masa pembayaran IKT serta mengarahkan mahasiswa untuk memanfaatkan peluang dana talangan dari baitul mal Unisba, dari BNIS melalui hasanah card, dan dari dana cita.

Fakultas pun memiliki otonomi dalam kebijakan pembayaran perkuliahan. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Nunung Nurhayati mengatakan pihaknya bekerja sama dengan bidang ketiga (Wadek III Kemahasiswaan) untuk mencari mahasiswa yang sangat membutuhkan dana bantuan, salah satunya yang terdampak Covid-19 untuk diberi subsidi yang sumbernya dari Fakultas dan pihak luar.

“Fakultas itu hanya sebagai pelaksana perintah, namun kami juga tidak tinggal diam sehingga kemarin 19 dari 47 mahasiswa sudah terbantu dana subsidi dari fakultas sisanya kami sudah carikan bantuan sumber dana dari pihak luar,” Ujarnya (26/12/2020).

Berbeda dengan FEB, Fakultas MIPA dan Tarbiyah menyediakan dana talang dengan bekerja sama dengan berbagai pihak dan memberikan kebijakan mencicil bagi mahasiswa yang mengalami hambatan dalam pembayaran perkuliahan. Mereka pun berperan sebagai jembatan antara mahasiswa dengan pihak Universitas terkait dengan permasalahan keuangan dan pembiayaan.

Kuliah Daring Ancam Iklim Organisasi Mahasiswa

Tidak hanya perihal akademik, kegiatan non-akademik yang berpotensi menyebabkan kerumunan pun ikut dilarang. Agenda kegiatan yang seharusnya dapat berjalan semestinya kini hanya berfokus pada agenda kegiatan yang bisa dilakukan secara daring. Hal tersebut tentu membuat para pengurus dari organisasi menyesuaikan sistem dengan keadaan yang ada tanpa punya aturan yang jelas.

Wakil Rektor III, Asep Ramdan Hidayat mengatakan kegiatan Lembaga Kegiatan Mahasiswa (LKM) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dapat berjalan seperti biasa dan menyesuaikan dengan keadaan saat ini, yaitu daring. Terkait masalah pendanaan kegiatan pun, ormawa dapat mengajukan proposal kegiatan untuk nantinya mendapat pendanaan layaknya perkuliahan luring.

Asep juga tidak membenarkan kurangnya ketertarikan mahasiswa terhadap organisasi di masa pandemi ini karena justru ketertarikan yang seharusnya muncul. “Kurangnya ketertarikan mahasiswa terutama mahasiswa baru terhadap kegiatan kemahasiswaan tidak dibenarkan, karena justru malah ketertarikan yang harusnya terjadi. Hal ini dipandang sebagai sebagai tantangan baru dan memunculkan ketertarikan yang tinggi nantinya,” Imbuhnya.

Perubahan iklim organisasi pun terjadi hingga menimbulkan berbagai perubahan dan hambatan kegiatan. Perubahan paling mencolok di ranah ormawa adalah tertundanya pemilihan presiden mahasiswa Unisba pada tahun 2020 hingga akhirnya menempuh jalur aklamasi.

Ketua DAMU Parhan Kamal menjelaskan, saat ini masih ada di ranah upgrading dan koordinasi untuk mempersiapkan program kerja. Adapun untuk koordinasi dengan LKM dan UKM ditengah situasi daring masih diusahakan. Ia menghimbau organisasi supaya berjalan lancar harus terbiasa dengan kondisi ini dengan begitu daring atau offline roda organisasi dapat terus berjalan.

“Rencana kami tentang kebijakan kegiatan ormawa (seperti pelantikan) yang dilakukan daring akan kami kaji dulu hal-hal yg memang harus segera di clear-kan, sembari melihat fenomena apa saja yg diperlukan dari tiap-tiap lembaga agar nantinya bisa sinkron dan dapat direalisasikan bersama-sama,” katanya.

Ketua BOMPAI, Krispian Fathan mengatakan, tantangan yang dialaminya adalah  mengatur segi komunikasi antar anggota dan proses kaderisasi. Dalam mengatur komunikasi dirinya tetap memberikan informasi ke anggota sesederhana mungkin dan tetap menjalin komunikasi. Terakhir untuk kaderisasi pihaknya tetap mencoba menjalankan kepengurusan sebaik mungkin dengan tetap bergerak sesuai porsinya.

Tidak berbeda jauh dengan BOMPAI, Utasebumi pun mengalami hal serupa. Ketua Utasebumi Kevin Yuka menjelaskan, pihaknya batal mengadakan acara pagelaran yang mengangkat isu budaya belajar sunda dan minang. Ia mengatakan “Kami sangat terdampak dalam latihan karena kami budaya minang tentu jauh untuk bisa saling bertemu, adapun kami coba latihan pake zoom meeting menjadi sulit karena sulit mengecek gerakan benar dan salahnya. Makanya sampai saat ini kami masih belum punya jadwal rutin latihan lagi,” ungkapnya.

Pentingnya Menjaga Kondisi Fisik hingga Psikis dikala Kuliah Daring

Selain kegiatan mahasiswa yang terdampak, kondisi kesehatan mahasiswa pun ikut terdampak. Dosen psikologi Siti Qodariyah menuturkan, konsep kesehatan mental bila mengacu pada WHO adalah “Keadaan sejahtera di mana seseorang dapat menyadari potensinya sendiri, mengatasi tekanan hidup yang normal, bekerja secara produktif, dan memberikan kontribusi kepada masyarakat”.

Jadi jika dikaitkan dengan kuliah daring, individu tetap menyadari potensi-potensi dirinya sendiri, tahu apa yang harus dikerjakan sesuai kemampuannya, misalnya punya kemampuan IT, tidak gaptek, mau belajar sesuatu yang baru dengan kondisi kuliah yang menjadi daring.

Individu juga mampu mengatasi tekanan hidup atau stress yang terkait dengan kondisi daring, seperti stress jika sinyal lowbat, stres terkait perkuliahan yang harus belajar sendiri, kuliah asynchronous, dan tidak bisa kerja kelompok.

Seperti yang dialami oleh Mahasiswa FEB, Helda Juliana mengatakan yang merasakan keluhan pada kondisi fisiknya. Pembelajaran full daring di depan laptop berakibat pada kesehatan matanya yang terkadang merasa perih.

“Yang aku rasakan di depan laptop terus, bukan yang sejam dua jam, mata aku udah minus jadi ngerasa tambah aja sama perih dan pundak tuh pegel-pegel sampe panas mungkin karena ngetik terus menerus,” ucapnya.

Tidak hanya Helda yang merasakan keluhan pada fisiknya. Kali ini Mahasiswa Tarbiyah, Milleandi Indra menjelaskan masalah psikis yang pernah dialaminya yaitu merasa jenuh akan keadaan seperti ini yang stagnan dan merasa banyak waktu terbuang. “Karena kurang bimbingan secara penuh dari yg seharusnya saya dapatkan secara tatap muka atau keadaan normal makanya hal tersebut muncul,” tuturnya.

Dalam segi psikologis, Dosen psikologi Siti Qodariyah menjelaskan gejala fisik dan psikis sebagai dampak buruk dari pembelajaran daring. Gejala fisik salah satunya seperti yang dialami oleh Helda, yakni mata lelah dan perih. Kemudian Siti menambahkan gejala fisik lain, seperti tegang otot, sulit beristirahat, dan nafsu makan terganggu.

“Adapun masalah psikis yang sering dikeluhkan selama daring, stres banyak tugas, sulit menyesuaikan diri, cognitive overload, tidak berdaya, dan lain sebagainya. Ketika itu bercampur jadi satu, itu membuat tekanan yang sangat besar untuk dihadapi seseorang, sehingga seseorang itu merasa stres, takut, dan cemas,” imbuhnya.

Ia merangkum setidaknya ada beberapa kiat supaya sehat secara mental ditengah gempuran pembelajaran daring, diantaranya:

Menumbuhkan kasih sayang pada diri sendiri dan orang lain, yaitu dengan menjaga kesehatan fisik dan imunitas dengan makan makanan bergizi dan melakukan olahraga untuk relaksasi. Aktivitas fisik akan mempengaruhi tubuh dalam memproduksi hormon endorfin yang dapat meredakan stress, mengurangi rasa khawatir, dan memperbaiki mood. Kemudian melakukan aktivitas atau hobi yang menyenangkan di rutinitas sehari-hari. Hati senang akan membuat imun kuat.

Buat skala prioritas, yang mana yang harus diselesaikan dahulu dan tidak menumpuk semua tugas (prokrastinasi) serta belajarlah secara rutin. Hentikan kebiasaan buruk untuk menyelesaikan diakhir waktu, sehingga memangkas jam tidur dan istirahat.

Saling memberi dukungan dengan menyebar energi positif dan menguatkan bahwa kita tidak sendiri menghadapi kuliah daring ini. Berkomunikasi dengan keluarga dan sahabat, ceritakan kekhawatiran dan kecemasan yang dirasakan pada anggota keluarga atau sahabat. Luangkan waktu agar bisa berkomunikasi dengan mereka.

Berhenti berpikir negatif dan mengurangi membaca berita atau informasi yang membuat kita jadi tertekan, cemas, dan takut. Yakinkan pada diri sendiri maupun orang lain bahwa pandemi ini segera berakhir, sehingga kuliah daring akan segera berganti menjadi kuliah tatap muka. Melatih emosi positif dengan mencari sisi baik dari apa yang dihadapi saat ini serta perbanyak berdoa.

Penulis: Muhammad Adnan & Euis Siti Nurhayati
Editor: Tazkiya Fadhiilah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *