Mengungkap Redupnya Iklim Organisasi Mahasiswa Unisba

Ilustrasi Mahasiswa Organisatoris yang tengah berdiskusi dan Mahasuswa Non Organisatoris yang baru menyelesaikan kegiatan perkuliahan. (Foto: Muhammad Khaira Faiq/SM)

 

Organisasi Mahasiswa sejatinya menjadi wadah mahasiswa untuk memperluas jaringan relasi dan menambah pengalaman.

Angan-angannya sih memang seperti itu, tapi sayangnya saat ini kehadiran Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di mata mahasiswa jauh berbeda dengan kenyataan. Setiap kali berjalan menyusuri kampus, Sekretariat kini sepi dari desas desus diskusi kecil. Tangga Batu yang biasanya ramai dengan penjual risol danus sekarang hanya terisi mobil-mobil yang terparkir di lapangannya saja. 

Atmosfer kampus biru terasa hampa tanpa kebul asap rokok mas-mas gondrong, ukhti dan akhi bendera hijau yang memenuhi tangga masjid atau badut yang senang berperan di Gedung Aquarium. 

Semua ini bermula dari fenomena perubahan sistem komunikasi, tutupnya Sekretariat organisasi, hingga orientasi mahasiswa yang mulai bergeser menyebabkan gerak organisasi kian melambat, bahkan hampir mati. Artinya mereka harus dengan cepat membentuk strategi kaderisasi dan branding untuk terus melakukan regenerasi dari tahun ke tahun.

Merosotnya jumlah anggota hingga penurunan aktivitas dalam ormawa memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kehidupan kampus. Berbagai masalah yang dihadapi para ormawa saat ini sudah mulai menghantarkan keredupan pada iklim organisasi di Unisba. 

Apa sih iklim organisasi itu? menurut Tagiuri dan Litwin, iklim organisasi merupakan kualitas lingkungan organisasi yang secara relatif terus berlangsung, dialami oleh anggota organisasi dan mempengaruhi perilaku mereka. Iklim ini akan terus berlangsung, berkembang, serta mempengaruhi perilaku sumber daya di dalamnya. 

Disamping itu, Robert Stringer mengemukakan, terdapat lima faktor yang mempengaruhi terjadinya iklim suatu organisasi, yaitu lingkungan eksternal, strategi, praktik kepemimpinan, pengaturan organisasi, dan sejarah organisasi.

Urgensi Ormawa Bagi Kampus dan Mahasiswa

Adanya organisasi yang berdiri di perguruan tinggi, dapat merefleksikan berbagai aktivitas kemahasiswaan dan gerakan mahasiswa untuk dapat menaungi dan menyalurkan aspirasinya. Sebab, selama ini organisasi dipandang sebagai wadah bagi sekelompok mahasiswa untuk beridealisme dan bekerja sama demi mencapai tujuan bersama.

Kehidupan ormawa memiliki dampak terhadap kampus dan mahasiswa, sebab kampus membutuhkan organisasi sebagai pemenuh akreditasi, penyokong eksistensi serta tempat penyaluran bakat dan minat mahasiswa. Wakil Rektor (Warek) III, Amrullah Hayatudin pun menyadari pentingnya eksistensi ormawa.

“Keberadaan ormawa bagi kampus sebagai wadah untuk teman-teman mahasiswa mengembangkan minat bakatnya kan gitu, contohnya BEMU membantu kinerja kontrol kemahasiswaan, seperti dalam penyaluran kritik dan saran,” katanya.

Namun, melihat minimnya peran ormawa beberapa tahun belakangan, menimbulkan kekhawatiran terhadap eksistensi beberapa ormawa di Unisba. Matinya iklim organisasi bisa saja terjadi ketika minat mahasiswa berorganisasi hilang. Lalu ketika ormawa mulai tidak aktif, pihak kemahasiswaan bisa saja membekukannya. Oleh karena itu, ia menyarankan agar ormawa segera  mempercantik diri dengan berprestasi di bidangnya. 

Ya satu sisi kalau naudzubillah lah itu terjadi, menjadi vakum atau dan lain sebagainya, bapak tidak mau menggunakan kekuasaan untuk membekukan organisasi. Jika Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tidak kontribusi, biarin saja kita sebagai pembina memikirkan untuk pengkaderan organisasi seperti apa. Tapi kalo misalkan pahit-pahitnya itu terjadi ya kita sebagai pengelola kemahasiswaan harus turun tangan.” Ucapnya saat diwawancarai pada Senin (21/03).

Bayang akan vakumnya ormawa pun membuat Presiden Mahasiswa (Presma) Unisba, Darlingga Prasetyo bertanya-tanya, ia menyebut bahwa pertimbangan untuk membekukan ormawa akan mempengaruhi akreditasi kampus itu sendiri.

”Pertama siapa yang mau membekukan? Kedua kalau misalnya Universitas mau membekukan, saya rasa perlu banyak pertimbangan karena bisa mempengaruhi akreditasi. Ketiga saat Dewan Amanat Mahasiswa Unisba (DAMU) dan BEMU dibekukan bagaimana (nasib) teman-teman ormawa (lainnya)?” Kata Darling saat diwawancarai pada Senin (21/03).

Minimnya Minat Mahasiswa dalam Berorganisasi

Hal ini pun berimbas pada penurunan jumlah mahasiswa yang berminat mengikuti ormawa, dimulai dari lembaga legislatif yaitu DAMU yang mengalami kemerosotan anggota dari tahun ke tahun, pun pada lembaga eksekutif, BEMU yang kehilangan banyak pendaftar.

Selain pada ranah Universitas, lembaga eksekutif fakultas pun mengalami hal serupa. Walaupun merasa masih eksis, sebagian BEM Fakultas, seperti BEM Fakultas Teknik, BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), dan BEM Fakultas Kedokteran (FK) merasakan imbas dari hal tersebut. Ketua BEM FK, Farhan mengungkapkan penurunan anggota pada open recruitment tahun 2020 terjadi penurunan sebanyak 30 orang, dari jumlah total 119 menjadi 89 orang.

Berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pun merasakan penurunan yang signifikan. Misalnya UKM Taekwondo dan Youth Community of Islamic Economic (Yocie) yang menyatakan bahwa penyebabnya karena terhambat pandemi. 

Senasib dengan Taekwondo dan Yocie, Penanggung Jawab Mahasiswa Pecinta Alam (Mapenta), Muhammad Alif bercerita jika penurunan terjadi dari segi aktivitasnya. “Dari segi kualitas dan kegiatan penurunannya drastis banget dan selama ini belum pernah offline,” ujar Alif, hari Selasa (05/04). 

Ia juga bercerita bahwa kegiatan Mapenta yang serba offline menuntut UKMnya untuk menggunakan Sekretariat, namun hal tersebut belum dikabulkan oleh DAMU maupun BEMU selaku wadah bagi UKM untuk mengeluarkan aspirasinya. “Aku juga greget sama BEMU kok ada aja alasannya, susah dihubungi sakit terus,  ini jadi pertanyaan saya, kok maksudnya Presma kenapa mesti disembunyikan seolah olah nggak paham.”

Dari minimnya minat mahasiswa tersebut, pada Maret hingga Juni 2022, Suara Mahasiswa menyebarkan kuesioner minat organisasi kepada mahasiswa Unisba Angkatan 2019, 2020, dan 2021. Dengan jumlah responden lebih dari 400 mahasiswa, survei ini dibagi menjadi tiga kategori mahasiswa yang berminat mengikuti ormawa, yaitu minat rendah, sedang dan tinggi. 

Adapun untuk tiga angkatan tersebut, hasil survei paling tinggi berada pada kategori minat sedang berorganisasi dengan persentase sebesar 91%, minat rendah sebesar 5,6% dan terakhir minat tinggi sebanyak 3,4%. Untuk kategori minat sedang berorganisasi, persentase tertinggi diduduki oleh angkatan 2021 sebesar 92,7%, diikuti angkatan 2019 dan 2020 sebesar 89%.

Dari hasil survei tersebut, menurut Amrullah, bisa terjadi karena adanya pandemi dan minat terhadap gadget pada mahasiswa meningkat. ”Mungkin karena faktor itu (pandemi) kan belum offline. Meskipun sebetulnya semakin kesini memang atau faktor gadget berpengaruh sehingga minat mahasiswa untuk berorganisasi menurun. Satu sisi mahasiswa lebih have fun, sibuk sendiri, dan lain sebagainya daripada berorganisasi.”

Ia memandang mahasiswa saat ini memiliki pemikiran yang pragmatis sehingga masuk ormawa bukanlah prioritas mereka. “Karena Unisba itu dianggap sebagai kampus yang biayanya mahal, jadi banyak mahasiswa yang nggak aktif berorganisasi karena takut kuliahnya akan lama,” kata Warek III itu.

Untuk menanggulangi penurunan yang terjadi, Amrullah berencana untuk membuat sistem yang mampu melacak minat mahasiswa ketika masuk ke Unisba, nantinya hal tersebut akan dipakai untuk menentukan kemana arah mahasiswa tersebut bisa terlibat, pada UKM ataupun LKM.

Orientasi Mahasiswa yang Kian Bergeser  

Dalam kondisi organisasi yang krisis, pergeseran orientasi mahasiswa pun jadi mimpi buruk. Dari yang tadinya mahasiswa terkenal dalam menyerap aspirasi perjuangan berubah menjadi penyerbu apa saja yang menjadi cuan. Dilansir dalam buku The Urban Middle Class Millennials, Hasanudin Ali, CEO Alvara Research Institute, mengungkapkan bahwa era 1998 orientasi mahasiswa lebih dominan kepada orientasi kebangsaan.  

Pergeseran orientasi ini pun sangat disadari oleh Amrullah, “Sadar banget karena memang pergeseran itu sudah terlihat sekali, sekarang mahasiswa itu lebih tertutup,” ujarnya saat diwawancarai di Ruangan Kemahasiswaan Unisba pada Senin (6/6).

Ketua DAM Fikom, Arie Mukhamad Akbar juga merasa bahwa pergeseran orientasi mahasiswa saat ini terjadi karena kurangnya wadah untuk berkumpul dan berinteraksi di kampus.

Serupa dengan Arie, staf Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) BEM Unisba, Muhammad Ramdan juga mengatakan bahwa orientasi mahasiswa saat ini mengalami pergeseran yang lebih mengarah ke berbisnis karena sekarang ini sedang zamannya dan juga lebih ada profitnya.

Kaderisasi dari Ormawa yang Kurang Memobilisasi Massa 

Dari tahun ke tahun kaderisasi dilakukan guna menarik seseorang masuk ke suatu lembaga atau organisasi. Proses ini diharapkan membangun pengetahuan dan kesiapan calon pengurus untuk melanjutkan kehidupan organisasi.

Cara kaderisasi yang dilakukan Kemendagri pada tahun 2019, yaitu dengan memahami karakter tiap ormawa. “Kan tiap-tiap ormawa itu beda-beda karakter, lanjut dari karakter tersebut itu yang menjadi tolak ukur kita dalam berkomunikasi dan berkoordinasi dengan ormawa-ormawa lain di Unisba pada saat itu.” ungkap Bijaktama selaku demisioner Kemendagri BEMU 2019.

Menanggapi hal tersebut Ketua BEM Fakultas Tarbiyah, Krisna Kurniawan Munizat mengatakan bahwa salah satu faktor dari penurunan jumlah anggota ini karena masa pandemi yang telah membuat perubahan dalam sistem organisasi. 

“Masa pandemi membuat mahasiswa kurang tertarik kepada ormawa karena jalannya yang monoton dan juga kurang menarik.” Ucapnya.

Walau proses kaderisasi ormawa sempat gonjang-ganjing, mereka tetap harus terus melaksanakannya. Beberapa demisioner mengaku prihatin dan sedih atas kondisi yang dialami saat ini. Seperti yang diungkapkan Pawestyagi Pamungkas selaku demisioner Ketua BEM Fikom tahun 2019. “Sangat disayangkan minat mereka turun tapi kalau kita coba lihat bisa jadi hal ini tuh dampak dari pandemi kemarin.” Ujarnya saat diwawancarai secara online pada Kamis (09/06). 

Fenomena ini cukup mengerikan bagi kehidupan organisasi mahasiswa. Perubahan-perubahan yang ada justru memperlemah kekuatan organisasi melalui kader-kader yang tidak menjiwai kehidupan organisasi itu sendiri. Jika sudah seperti ini, siapakah yang akan bertanggung jawab untuk menghidupkan kembali iklim ormawa Unisba? 

Pewarta: Salwa Nur Ainni, Farhan Anfasa Hidayat, Adzkiyaa Ardhinissa, dan Syifa Khoirunnisa

Penulis: Syifa Khoirunnisa dan Sophia Latamaniskha

Editor: Putri Mutia Rahman dan Tazkiya Fadhiilah Khoirunnisa